Mengajari anak kita mengenai tingkatan-tingkatan suara (intonasi) dan tempat pemakaiannya adalah sesuatu yang perlu. Berbisik, suara yang rendah untuk percakapan rahasia, sehingga tidak mengganggu orang tidur. Perkataan dengan intonasi atau aksen datar, dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika bermain dan bercakap-cakap. Kemudian suara tinggi dipakai saat minta tolong, memperingatkan seseorang yang ada dalam bahaya tetapi ia tidak melihatnya.
Contoh berikut akan menjelaskan apa yang kita maksudkan. Ahmad berusia 4 tahun, dia meminta apa saja kepada ibunya dengan cara berteriak keras sekali. Sepertinya teriakan si Ahmad itu sebagai ganti dari bicaranya. Kemudian sang ibu ingin mengajarinya bagaimana berbicara dengan lebih tenang. Sang ibu berbicara kepada putranya, "Mari kita berbicara tentang suara." Suara itu adakalanya tinggi dan keras -lalu ia berbicara dengan suara tinggi-, adakalanya pelan dan halus -ia merendahkan suaranya dan berbicara dengan intonasi normal tanpa emosi-. "Anakku..., mari kita berlatih". "Ibu ingin mendengar suara yang tinggi." Ahmad tersenyum lalu berteriak, "Ini suara keras", katanya. Ibunya menjawab "bagus". "Sekarang ibu ingin mendengar suara kamu yang pelan." Lalu Ahmad berbisik, "Ini suara pelan ...". "Bagus sekali", kata ibunya. "Anakku..., saat kamu meminta sesuatu, berbicaralah dengan suara pelan dan tenang!".
Berikutnya, setiap kali Ahmad meminta sesuatu dengan suara pelan, ibunya memberinya penghargaan atau hadiah. Dengan demikian bisa diperkirakan hasilnya, tentunya sang anak akan termotivasi untuk menggunakan tingkatan-tingkatan suara sesuai pada tempatnya.













