![]() |
| ngenee.blogspot |
Bagi anda yang tinggal atau pernah belajar di Solo atau Jogja, anda akan menjumpai pedagang kaki lima "angkringan" yang nonggol ketika matahari terbenam dan hari mulai malam. Dinamakan angkringan mungkin karena biasa digunakan sebagai tempat nangkring (duduk sementara atau nongkrong) para masyarakat pada malam hari. Mahasiswa pun merupakan salah satu pelanggan setia angkringan ini, karena makanannya yang murah meriah dan suasanya yang pas (remang-remang) untuk sekedar ngobrol melepas penat atau kejenuhan karena kuliah. Yang menjadikan khas angkringan ini adalah penggunaan tungku berbahan arang untuk menghangatkan airnya yang sudah masak dan pemakaian dian teplok, sentir (berbahan minyak) sebagai penerangannya. Ya..., tentunya tidak seterang kalau menggunakan lampu listrik. Tapi justru suasana khas inilah yang banyak dicari dan memberikan kesan tersendiri. Mungkin karena alasan ini juga, kebanyakan pelanggan angkringan adalah kaum adam.
