Herbal Medicine sebagai sarana pengobatan alternatif telah mendapat perhatian masyarakat luas akhir-akhir ini. Selain menjanjikan nilai ekonomi, herbal medicine bisa memperkecil efek negatif dari penggunaan obat kimiawi. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan potensi tanaman herbal bagi kesehatan (herbal medicine). Pengembangan obat herbal meliputi jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.
Indonesia sebagai negara yang mempunyai beragam hayati dan kaya tanaman obat tidak menyia-yiakan anugerah yang besar tersebut. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat
Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Jawa Tengah, sebagai lembaga penelitian dan pengembangan herbal.
Tulisan kali ini akan membahas potensi curcumin dalam herbal medicine sebagai anti kanker. Curcumin merupakan salah satu zat aktif yang terdapat di dalam kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale) dan bangle (Zinggiber cassumunar Roxb.). Curcumin secara in vitro dan in vivo telah terbukti memiliki potensi terapeutik sebagai antioksidan kuat, antivirus dan antibakteri. Curcumin
juga memiliki potensi besar untuk digunakan melawan kanker melalui
beberapa jalur, khususnya pada kanker kolon. Sebagai antioksidan, Curcumin bekerja secara langsung dalam menurunkan kadar Reactive Oxyigen Species
(ROS) yang berlebihan pada stres oksidatif. Selain itu, mengaktivasi
jalur Keap1-Nrf2, menginduksi translokasi Nrf2 dari sitoplasma ke
nukleus, sehingga mengaktifkan pembentukan protein-protein yang
berfungsi sebagai antioksidan.
Penjelasan lebih lengkap mengenai potensi curcumin dalam herbal medicine; sebagai antikanker, bisa temans kunjungi link url berikut; https://desiemeilana.wordpress.com/2015/11/09/herbal-medicine-unej-curcumin-anti-kanker/
Referensi:
